Cerita kota pekanbaru riau terkini berita masyarakat melayu

Pekanbarukita.com
Tempat Review Hotel & More

Friday, April 4, 2008

Premanisme atau ?....

Pagi ini kantor kami menerima kiriman barang dari jakarta dengan memakai jasa pengiriman darat (truk). Tetapi alangkah terkejutnya saya karena disaat sopir truk datang kekantor ia sudah didampingi oleh beberapa orang yang mengaku dari serikat buruh SPSI.Nah mereka inilah yang meminta/nego untuk ongkos bongkar muat di gudang kami.

Segera saya kontak kantor ekspedsi pusatnya dan menanyakan apa benar pihak penerima yang membayar ongkos bongkar barangnya. Dikatakan bahwa ongkos bongkar sudah termasuk dalam biaya pengiriman dari kantor pusat kami ke cabang. Sehingga dengan berat hati dan kecewa, pihak ekspedisi pusat tsb membayar sejumlah uang kepada SPSI disini untuk boleh membongkar barang di gudang kami.(Dengan jumlah yang kurang masuk akal!!)

Pihak SPSI di kota pekanbaru berpendapat, bahwa kalau ada truk2 yang masuk kota pekanbaru dan belum memiliki perwakilan disini, maka itu sudah pasti akan di kejar dan di todong saat akan bongkar barang di kawasan kota pekanbaru. Tetapi kalo mereka punya perwakilan di kota pekanbaru, maka yang membongkar ialah pihak perwakilan karena biasanya perwakilan ekspedisi disini sudah memakai jasa SPSI di cbang masing2.
Sedikit aneh dan maksa kalo menurut saya.

Pengalaman saya menerima kiriman barang dalam jumlah besar di beberapa kota di sumatera mulai dari lampung sampe medan, biasanya tidak terjadi hal-hal seperti ini. Biasanya biaya yang dikenakan oleh mereka tidaklah main pukul rata seperti kasus diatas.

Kalo di pekanbaru buruh2 yang suka maen tembak ini langsung mengenakan tarif berdasarkan mobil. Kalo mobil truk ukuran biasa sekitar Rp.350 ribu-500 ribu. Kalo truk jenis fuso bisa diatas itu lagi! Itupun disertai berbagai ancaman kepada sopir dan kernetnya. Yah inilah salah satu cermin kegiatan yang selama ini selalu terjadi, tetapi banyak pihak hanya tutup mata saja.
Upss hampir lupa, saya sampe panggil polisi segala dengan harapan biar tidak ribut-ribut. Tapi apa yang terjadi? polisipun tidak bisa campur tangan dan hanya mengawasi nego harga bongkarnya saja. Pihak SPSI bersikeras dengan tarif mereka dan biasanya sopir dan ekspedisi dari luar kota akan mengalah karena demi menjaga keselamatan barang bawaan mereka.

Kalo tidak salah ini sudah pernah dikeluhkan para pebisnis di kota pekanbaru. Tapi sampe sekarang pemerintah kota pekanbaru masih belum tegas dan dan belum bisa memberikan solusi terbaik kepada semua pihak.
Kasihan masyaraktnya dan pengusaha yang setiap kali harus berhadapan dengan hal-hal seperti ini.
Mohon diperhatikan ya pak!...

6 comments:

Anonymous said...

Damn it, hari ini giliran perusahaan gw yang kena gilir ama SPSI

Anonymous said...

Premanisme yang terselubung (bongkar muat/SPSI), karena menawarkan jasa dengan memaksa (harus/wajib), patokan yang dipakai macam di pelabuhan saja, nampaknya pengusaha-pengusaha di pekanbaru maklum dengan sangat terpaksa. Perda-nya ada lo!

Anonymous said...

Spsi =kumpulan sampah yg malas kerja cmn nunggu truk2 dtg aja.trus maksa harus pke jasa mrk dgn byaran yg gila..semoga kluargamu hdupnya menderitadunia akhirat utk org2 spsi.

Anonymous said...

Pak erwin...kami juga pernah begitu. Ternyata belum berobah. It has been along time, sekitar tahun 2002 ketika pulang dari inggris. Kami beberapa doaen unri patungan bawa buku dan beberapa peralatan ketika jadi mhs di inggris dulu. Barang2 tsb dikapalkan dan masuk via tjng priok trus dikirim pakai truk ke pekanbaru, kami dipalakin spsi ketika bongkar barang di pku. Ayo pemko...lindungi wargamu!!

Anonymous said...

sampai sekarang juga masih begitu. Entah kapan berhentinya

safriadi Ibn said...

Emg perda nya tentang SPSI tu di pasar berapa, ayat berapa atau junto berapa.....harap penjelasannya.

Pekanbaru Lovers :